Apapun makanannya harus ada nasi. Stereotip seperti itu kerap terdengar. Orang Indonesia kini banyaknya menganggap kenyang haruslah makan nasi. Makan nasi buat kenyang, tanpa nasi itu bukan makan. Namun, apakah itu benar? Apa leluhur kita ribuan tahun yang lalu memang sudah makan nasi?
Beras kini menjadi pangan yang menggeser sumber karbohidrat lokal warisan nenek moyang kita. Salah satu yang terpinggirkan semenjak beras menjadi standar karbohidrat adalah sagu. Sagu sejatinya merupakan salah satu karbohidrat yang sudah lama ada dan warisan dari nenek moyang kita.
![]() |
| Buku Sagu Papua untuk Dunia oleh Ahmad Arif. |
Buku Sagu Papua untuk Dunia yang ditulis Ahmad Arif merupakan salah satu buku nonfiksi yang amat sangat membekas bagiku. Di kali keduaku membaca buku ini alias baca ulang, aku makin sadar akan banyak hal berkait pangan lokal. Selama membaca, suguhan fakta bahwa penetrasi beras dan terigu sudah menyebar jauh mengikis pangan lokal kita, bahkan sampai ke tanah Papua.
Lantas, ini adalah sedikit tulisan rekap bacaanku tentang Sagu Papua untuk Dunia. Buku ini menjadi bacaan ke-4 yang aku rampungkan di tahun 2026.
Sinopsis Buku
Sagu Papua untuk Dunia memiliki sinopsis:
KEBIJAKAN PANGAN nasional hingga kini masih identik dengan beras. Padahal, sejak 1952 Presiden Sukarno sudah mengingatkan bahwa menitikberatkan kebijakan pangan hanya pada padi sawah akan sulit memenuhi kebutuhan perut penduduk negeri ini.
Kerentanan pangan Indonesia boleh dibilang karena kurangnya pengetahuan dibandingkan kurangnya pangan. Maka, merujuk pada pandanga Sukarno sudah saatnya kita menempuh kebijakan pangan yang berperspektif Nusantara. Ini berarti tanaman lokal yang terbukti mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat mendapatkan prioritas. Salah satunya adalah sagu. Tanaman ini tidak tergantung pada musim dan memiliki daya tahan di lingkungan marginal, seperti lahan gambut.
Sagu dianggap sebagai sumber pangan awal yang dikonsumsi manusia modern (Homo sapiens) dan Indonesia merupakan negara dengan cadangan sagu terbesar di dunia. Di masa lalu, sagu juga dikonsumsi di berbagai tempat lain di Indonesia, termasuk Jawa. Ironisnya, Malaysia lebih mendominasi pasar ekspor sagu dunia. Buku ini memberikan kita pengetahuan tentang arti penting sagu bagi masyarakat Papua dan peran swasta dalam mengembangkannya.
Informasi Buku
Sagu Papua untuk Dunia merupakan buku pertama dari Seri Pangan Nusantara. Buku ini ditulis oleh Ahmad Arif dan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia. Cetakan pertama dicetak pada November 2019, sedangkan kali ini aku baca cetakan ketiga yang terbit November 2025. Sagu Papua untuk Dunia terdiri dari 208 halaman dengan ukuran buku 14 x 21 cm dengan sampul lunak.
Akses Buku
Buku Sagu Papua untuk Dunia tersedia versi cetak maupun digital. Untuk versi digital bisa diakses di iPusnas, Gramedia Digital, dan Google Playbooks. Sedangkan edisi cetak bisa dibeli di toko buku kesayangan kamu atau toko buku daring.
Kamu bisa juga beli buku Sagu Papua untuk Dunia di shopee lewat link ini.
Opini Selama Baca
Sebagai catatan dulu, ini adalah kali keduaku baca buku ini. Pertama baca itu versi digitalnya yang aku pinjam di iPusnas, sedangkan sekarang baca versi cetaknya. Sama seperti buku lainnya dalam Seri Pangan Nusantara, Sagu Papua untuk Dunia menyajikan cover, foto, dan ilustrasi yang cantik. Baik versi digital maupun cetak semuanya berwarna.
Awal membaca kita akan dikenalkan dengan sagu. Bukan hanya dikenalkan secara biologis, tetapi jejak sejarah tanaman ini turut dikupas. Kita kembali diingatkan bahwa sagu sudah lama melekat dalam Nusantara dan eksistensinya penting. Selain itu, kita juga diajak untuk melihat keseharian masyarakat yang ada di Indonesia bagian timur, khususnya Papua serta kaitan sagu dalam rutinitas dan budaya mereka.
Semakin lama membaca, banyak tamparan fakta kian terasa. Sagu adalah sumber pangan yang penting. Istilah sagu adalah ibu terasa sangat mengena. Karena dari satu pohon sagu didapatkan banyak hal: karbohidrat dari patinya, protein dari larva kumbang sagu, ikan di perairan sekitar, bahkan jamur dari sagu yang melapuk, bahkan daunnya pun berfungsi sebagai atap hunian. Keunggulan serta nilai penting dari sagu berulang kali dipaparkan.
Kegelisahan dan ironi berkait masuknya beras dan sagu hingga kasus gizi buruk yang menimpa Papua berkali-kali disentil. Papua seharusnya berdaultan pangan dengan cadangan sagunya, kini malah bergantung beras dan gandum. Belum lagi kasus gizi buruk, tengkes, dan masalah ekonomi akibat tergantungan dengan bantuan jelas sekali. Sagu yang harusnya menjadi jawaban kedaulatan serta ketahanan pangan malah kian tersingkirkan dengan cita-cita membuka sawah di tanah Papua.
Tantangan pengembangan sagu juga dijelaskan. Sagu adalah jawaban pangan dan industri yang harus dikembangkan. Namun, sektor ini masih sangat minim mendapatkan bantuan terutama dari pemerintah. Meskipun memiliki cadangan sagu terbesar di dunia, Indonesia kalah ekspor sagunya dengan Malaysia.
Di bab akhir, kita lagi-lagi diingatkan bahwa kunci kedaulatan pangan Indonesia bukan sawah baru atau intensifikasi padi. Kembali mengonsumsi pangan lokal yang beragam adalan kunci. Pangan lokal lebih adaptif iklim dan lingkungan yang jelas sudah terbukti. Sagu harus dikembangkan budidaya, konsumsi, dan industrinya karena selain ramah lingkungan, hasil produk yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Penutup Habis Baca
Aku menikati perjalanan baca ulang buku ini. Mungkin buku ini akan terasa sedikit membosankan bagi beberapa orang karena yah ada beberapa hal yang berasa diulang dan ditekankan berkali-kali. Namun, berbagai informasi terkait sagu dan kehidupan masyarakat di Papua menjadi poin yang menarik. Aku rasa kita belajar mengenal lebih dekat sahabat kita di tanah Papua dari buku ini. Apalagi foto yang disajikan memberikan gambaran keseharian mereka seperti apa dan rasanya dekat saja.
Buku ini merupakan salah satu buku yang akan selalu aku rekomendasikan untuk kalian baca paling tidak sekali. Dari buku ini kita akan belajar bahwa pangan di Indonesia beragam dan layak dilirik untuk mengisi piring kita. Merawat dan menjaga saugu adalah hal yang harus kita lakukan, tidak hanya untuk mengisi perut tetapi lingkungan serta budaya.
Akhir kata, aku akan bilang bahwa Sagu Papua untuk Dunia merupakan buku nonfiksi menarik yang mampu mengenalkan kita tentang pangan lokal terutama Sagu. Di sini, kita akan mengenal tahu apa itu sagu dan belajar soal ketahanan pangan lokal dari tanaman ini. Skor akhir dariku pada baca ulang buku ini adalah 4,5 dari 5.
Kalian bisa baca versi singkat tulisan ini di bookstagramku @arestyuning atau klik link ini.
restyu, 260226.



Posting Komentar