Pohonnya mudah kita jumpai. Buahnya sering dijadikan kudapan teman kopi atau teh. Sukun sudah lama berada di sekitar kita. Namun, kita kerap abai pada pohon besar satu ini. Padahal sukun bisa menjadi penyelamat pangan kita di masa depan.
Kalau boleh jujur, aku tidak asing dengan pohon satu ini. Kala musim panen sukun tiba, biasanya di rumah ada satu atau dua butir sukun tersaji di dapur. Diolahnya sederhana cuma dikukus sebentar sebelum digoreng. Breadfruit yang cuma jadi camilan di Indonesia, ternyata di luar negeri sudah diteliti lebih jauh. Karena mungkin pohon ini akan menjadi pangan penyelamat kala krisis iklim datang.
![]() |
| Buku Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Membawa Pulang Sukun ke Nusantara oleh Ahmad Arif. |
Buku Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara adalah buku keempat dari Seri Pengan Nusantara karya Ahmad Arif. Seperti seri-seri sebelumnya, pada buku ini kita belajar pangan lokal kita, yaitu: sukun. Dari perjalanan membaca kali ini, banyak hal yang bisa kita pelajari dari pohon sukun. Karena pohon kehidupan ini memiliki banyak jawaban dari permasalahan kita.
Sinopsi Buku
Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun Ke Nusantara memiliki sinopsis:
KETIKA pasokan beras—makanan pokok kita—semakin mengkhawatirkan akibat sering gagal panen karena perubahan iklim, ktia perlu memanggil kembali pohon-pohon tua yang dilupakan, sumber pangan asli Nusantara. Sukun menjadi salah satu kandidat terpenting. Inilah pohon yang didomestikasi oleh leluhur kita, orang-orang Austronesia dan Papua, sekitar 5.000 tahun lalu. Ia bisa menjawab masa depan karena memiliki daya tahan terhadap pemanasan global.
Di masa lalu, warga desa di Nusantara menjadikan sukun sebagai penolong kala musim paceklik tiba. Bahkan, di pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Mapia, Papua, sukun menjadi sumber pangan utama. Kenikmatan sukun pun pernah memikat para bajak laut hingga naturalis Barat di masa lalu, sampai-sampai mereka menamainya breadfruit. Mereka menaruh hormat pada sukun yang bisa tumbuh di pulau-pulau kecil Samudra Pasifik.
Sayang, keajaiban sukun ini nyaris tak pernah masuk buku pelajaran. Ia hanya hidup dalam cerita-cerita lokal, dan itu pun hampir padam. Sukum terpinggirkan di meja makan kita, sebagaimana beragam pangan lokal lain seperti sagu, sorgum, keladi, dan beragam umbi-umbian.
Buku ini membedahkan potensi sukun untuk menopang ketahanan pangan kita. Memanggil pulang sukun kembali sebagai suber pangan lokal bukan berarti menggusur beras atau beragam pangan lainnya. Sebaliknya, ia menjadi strategi penting untuk memperkuat fondasi keberagaman pangan kita agar tidak semakin bergantung pada impor, terutama gandum.
Informasi Buku
Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara merupakan buku keempat dalam Seri Pangan Nusantara. Buku ini ditulis oleh Ahmad Arif dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Kali ini aku baca cetakan pertamanya yang diterbitkan Oktober 2025. Buku ini terdiri dari vii + 192 halaman dengan ukuran 14 x 21 cm dan sampul lunak.
Akses Buku
Buku Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara bisa dibaca dalam bentuk digital (e-book) atau fisik (cetak). Setahuku buku digitalnya bisa diakses di Google Play Books. Sedangka untuk versi cetak bisa dibeli langsung di toko buku atau secara daring lewat:
Website Gramedia dengan tautan ini.
Opini Selama Baca
![]() |
| Cuplikan halaman Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Membawa Pulang Sukun ke Nusantara yang aku baca. |
Perjalanan baca dibuka dengan perkenalan sukun dari sisi sejarah. Tanaman satu ini ternyata sudah lama di tanah kita. Pada buku ini dijelaskan sukun merupakan salah satu produk domestikasi leluhur dari tanah Papua. Sukun sudah amat tua dan menjadi saksi beragam peristiwa di tanah Indonesia. Sejarah sukun dikupas menarik mulai dari sebarannya hingga kaitannya dengan penjelah dari Eropa.
Menurutku di bagaian penjelajah Eropa terasa menarik sekali meskipun singkat. Di bagian tersebut penekanan sukun sebagai jawaban pangan masa depan diulang berkali-kali. Lalu pada sajian sejarah sukun di Indonesia kita diingatkan kembali bahwa pohon kehidupan ini sudah erat dengan kita dari zaman dahulu.
Pembahasan sukun dari segi sosial budaya berkaitan dengan beberapa hal menarik seperti pemanfaatan sukun dalam aktivitas masyarakat. Di sini disinggung sedikit alasan kenapa sukun ditanam di halaman rumah orang-orang, meskipun sekarang sudah tidak banyak yang melakukannya. Ada fakta menarik tentang Maluku yang kaya akan sukun dan kaitan sukun dalam cerita yang diwariskan.
Dari segi sains, sukun membawa banyak manfaat. Kita akan belajar sukun baik secara biologis dan kesehatan. Pohon tanaman ini tinggi dan besar ukurannya, begitupula potensi yang dibawanya. Fakta-fakta nutrisinya membuat kita tersadar betapa hebatnya sukun. Hal ini menadakan bahwa sukun adalah superfood yang dekat dengan kita, tetapi di satu sisi jauh dari kita.
Satu hal yang aku dapati selama membaca buku ini adalah kajian saintis sukun di Indonesia minim sekali. Banyak referensi buku ini berasal dari penelitian saintis luar negeri. Sebuah ironi di tanah yang kaya sukun tetapi miskin dokumentasinya.
Kajian menarik lainnya di buku ini adalah potensi suku dalam wanatani. Sebagai orang yang sempat belajar pertanian, wanatani atau nama kerennya agroforestri memang masih kurang dikembangkan di negara kita. Pada buku ini, potensi sukun dalam industri wanatani dikulik meskipun bagiku pribadi agak kurang panjang. Sukun memang sebuah pohon ajaib yang kuat. Mereka bukan sebatas naungan, mereka pangan, mereka sumber pendapatan, dan mereka penjaga bumi.
Refleksi di bab akhir terasa ngena sekali untukku. Dari buku ini kita dibuat merenung pada kemandirian pangan negara ini. Kenapa pangan lokal layaknya sukun kian terabaikan? Kenapa sawah semakin banyak dicetak? Kenapa gandum kita impor jor-joran? Salah satu kalimat di epilog buku ini adalah sebuah fakta dan tamparan bagi kita semua: Tantangan terbesar untuk memanggil kembali sukun sebagai sumber pangan kita sesungguhnya berada di alam pikir, terutama alam pikir pengambil kebijakan negeri ini yang masih terjebak pada obsesi pangan yang seragam.
Penutup Habis Baca
![]() |
| Buku Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Membawa Pulang Sukun ke Nusantara yang aku baca. |
Secara keseluruhan, Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara berhasil menyajikan gambaran singkat dan baru terhadap sukun. Banyak pelajaran baru dan menarik yang aku dapatkan selama membaca. Beberapa resep yang tersaji di buku ini pun terlihat menarik untuk dimasak. Foto dan ilustrasinya masih cantik dan indah seperti di buku-buku sebelumnya. Meskipun ada beberapa bagian layout yang posisi penempatannya kurang sreg untukku pribadi dan membuat bingung sedikit.
Sama seperti buku-buku pendahulunya, aku merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini. Karena sukun memang sebuah potensi yang terabaikan di Indonesia. Mereka mudah dirawat, mereka kuat, dan mereka menjaga kita. Sukun harus pulang ke Nusantara dan kita harus menjemputnya.
Kalau boleh jujur, buku ini entah kenapa terasa sedikit berbeda sentuhannya dibandingkan 3 buku pendahulunya. Namun, isinya tetap menarik, menyegarkan, dan asyik selama aku baca. Buku ini berhasil mengajak kita untuk mulai bergerak menjemput sukun dalam keragaman pangan lokal kita. Kita harus membawa pulang sukun ke sajian piring kita agar pangan kita kian beragam. Akhir kata, Buah Leluhur dair Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara aku beri skor 4 dari 5.
Versi singkat tulisan ini di bookstragram-ku @arestyuning yang akan aku unggah besok.
restyu, 030626.





Posting Komentar